"-------------------------Debu Yandi-------------------------"

"If I can help in any way, please don't hesitate to set a time to meet or leave your details and I'll get back to you."---"Jika saya bisa membantu dengan cara apapun, jangan ragu untuk atur waktu pertemuan atau tinggalkan pesanmu dan saya akan hubungimu kembali."

Tuesday, May 29, 2012

0

Pembagian Harta Peninggalan

  • Tuesday, May 29, 2012
  • Debu Yandi
  • Share


  • At-tarikah (peninggalan) dalam bahasa Arab bermakna seluruh jenis kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa harta, benda, atau tanah. Semua peninggalan itulah yang harus dibagikan kepada ahli waris yang ada sesuai dengan hak bagian yang harus mereka terima.

    Untuk mengetahui pembagian harta waris kepada setiap ahlinya ada beberapa cara yang harus ditempuh, namun yang paling masyhur di kalangan ulama faraid ada dua -- dalam hal yang berkenaan dengan harta yang dapat ditransfer.

    Cara pertama: kita ketahui nilai (harga) setiap bagiannya, kemudian kita kalikan dengan jumlah bagian tiap-tiap ahli waris. Maka hasilnya merupakan bagian masing-masing ahli waris.

    Cara kedua: kita ketahui terlebih dahulu bagian setiap ahli waris secara menyeluruh. Hal ini kita lakukan dengan cara mengalikan bagian tiap-tiap ahli waris dengan jumlah (nilai) harta peninggalan yang ada, kemudian kita bagi dengan angka pokok masalahnya atau tashihnya. Maka hasilnya merupakan bagian dari masing-masing ahli waris.

    Contoh Cara Pertama

    Seseorang wafat dan meninggalkan istri, anak perempuan, ayah, dan ibu. Sedangkan harta peninggalannya sebanyak 480 dinar, maka pembagiannya seperti berikut:

    Pokok masalahnya dari 24, istri mendapatkan 1/8 yang berarti 3 bagian, anak perempuan 1/2 berarti 12 bagian, ibu mendapatkan 1/6 berarti 4 bagian, sedangkan sisanya (yakni 5 bagian) merupakan hak ayah sebagai 'ashabah.

    Adapun nilai (harga) per bagiannya didapat dari hasil pembagi harta waris yang ada (480 dinar) dibagi pokok masalah (24), berarti 480: 24 = 20 dinar adalah harga per bagian.

    Jadi :
    bagian istri 3 bagian x 20 dinar = 60 dinar
    Anak perempuan 12 bagian x 20 dinar = 240 dinar
    Ibu 4 bagian x 20 dinar = 80 dinar
    Ayah ('ashabah) 5 bagian x 20 dinar = 100 dinar
    Total = 480 dinar


    Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung perempuan, ibu, suami, cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta waris yang ada sebanyak 960 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-tashikkan-kan menjadi 24. Cucu perempuan mendapatkan 1/2 yang berarti 12 bagian, suami mendapatkan 1/4 yang berarti 6 bagian, dan ibu memperoleh 1/6 yang berarti 4 bagian. Sedangkan sisanya (dua bagian) untuk dua saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah ma'al ghair. Tabelnya seperti berikut:


       
    2
     
       
    12
    24
    24 Cucu perempuan keturunan anak laki-laki
    1/2
    6
    12
    Suami 1/4
    1/4
    3
    6
    Ibu 1/6
    1/6
    2
    4
    2 saudara perempuan kandung ('ashabah ma'al ghair)
    1
    2
     
    Adapun nilai per bagian; 960 dinar: 24 = 40 dinar. Jadi, bagian masing-masing ahli waris:

    Jadi,

    Cucu pr. keturunan anak laki-laki 12 x 40 dinar = 480 dinar
    Suami 6 x 40 dinar = 240 dinar
    Ibu 4 x 40 dinar = 160 dinar
    Dua saudara kandung perempuan 2 x 40 dinar = 80 dinar
    Total = 960 dinar


    Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan empat anak perempuan, dua anak laki-laki, ayah, ibu, dan tiga saudara kandung laki-laki, dan harta peninggalannya 3.000 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian ditashih menjadi 12. Sang ayah mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian, ibu mendapatkan 1/6 berarti 2 bagian, dan sisanya dibagikan kepada enam (6) anak, dengan ketentuan bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan, berarti bagian anak perempuan 4 bagian (masing-masing satu bagian), sedangkan bagian anak laki-laki juga 4 bagian (masing-masing 2 bagian), sedangkan saudara kandung laki-laki mahjub. Simak tabel berikut:


       
    2
     
       
    6
    12
    Empat anak perempuan  
    4
    4
    Dua anak laki-laki  
    3
    4
    Ayah
    1/6
    1
    2
    Ibu
    1/6
    1
    2
    Tiga saudara kandung laki-laki (mahjub)
    -
    -
     
    Adapun nilai per bagiannya adalah 3.000:12 = 250 dinar

    Jadi,

    bagian 4 anak perempuan 4 x 250 dinar = 1.000 dinar
    dua anak laki-laki 4 x 250 dinar = 1.000 dinar
    ibu 2 x 250 dinar = 500 dinar
    ayah 2 x 250 dinar = 500 dinar
    Total = 3.000 dinar


    Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan suami, saudara kandung perempuan, dua saudara laki-laki seibu, dan nenek. Sedangkan harta peninggalan seluruhnya 9.900 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6 kemudian di-'aul-kan (dinaikkan) menjadi 9. Suami mendapat 1/2 yang berarti 3, saudara kandung perempuan 1/2 berarti 3, dua saudara laki-laki seibu memperoleh 1/3 berarti 2, sedangan nenek mendapat 1/6 berarti satu (1). Perhatikan tabel berikut:


       
    6
    9
    Suami
    1/2
     
    3
    Saudara kandung perempuan
    1/2
     
    3
    Saudara laki-laki seibu
    1/3
     
    2
    Nenek
    1/6
     
    1
    Adapun nilai per bagiannya adalah 9.900: 9 = 1.100 dinar

    Jadi,

    Suami 3 x 1.100 dinar = 3.300 dinar
    Saudara perempuan kandung 3 x 1.100 dinar = 3.300 dinar
    Dua saudara laki-laki seibu 2 x 1.100 dinar = 2.200 dinar
    Nenek 1 x 1.100 dinar = 2.200 dinar
    Total = 9.000 dinar


    Bila seseorang wafat dan meninggalkan suami, ibu, dua anak perempuan, 3 cucu perempuan keturunan anak laki-laki, satu cucu laki-laki dari keturunan anak laki-laki, sedangkan harta yang ditinggalkan sejumlah 585 dinar, maka pembagiannya seperti berikut:

    Pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 13. Suami mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian), dan dua anak perempuan 2/3 (berarti 8 bagian).

    Sedangkan kedudukan para cucu dalam hal ini sebagai 'ashabah, sehingga mereka tidak memperoleh bagian karena harta waris telah habis dibagikan kepada ashhabul furudh. Perhatikan tabel berikut:


     
    12
    13
    Suami
    1/4
    3
    Ibu
    1/6
    2
    Dua anak perempuan
    2/3
    8
    Tiga cucu perempuan
    Dua cucu perempuan
    'ashabah
    -
    Jadi,

    Suami 3 x 585:13 dinar = 135 dinar
    Ibu 2 x 585:13 dinar = 90 dinar
    Dua anak perempuan 8 x 585:13 dinar = 360 dinar
    Total = 585 dinar

    Contoh lain, seseorang wafat dan meninggalkan dua saudara kandung, cucu perempuan keturunan anak laki-laki, ibu, suami, sedangkan harta warisnya berjumlah 240 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian ditashih menjadi 24, cucu perempuan keturunan anak laki-laki mendapatkan 1/2 (berarti 12 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), suami mendapatkan 1/4 (berarti 6 bagian), dan dua saudara kandung 2 bagian sebagai 'ashabah.


       
    12
    24
    Cucu pr. ket. anak laki-laki
    1/2
    6
    12
    Ibu
    1/6
    2
    4
    Suami
    1/4
    3
    6
    Dua saudara kandung ('ashabah)  
    1
    2
    Cucu pr. ket. anak laki-laki 12 x 240:24 dinar = 120 dinar
    Ibu 4 x 240:24 dinar = 40 dinar
    Suami 6 x 240:24 dinar = 60 dinar
    Dua saudara kandung ('ashabah) 2 x 240:24 dinar = 20 dinar
    Total = 240 dinar

    Misal lain, seseorang wafat dan meninggalkan ibu, dua saudara kandung perempuan, saudara perempuan seayah, saudara laki-laki seayah, dan cucu perempuan keturunan anak laki-laki. Sedangkan harta peninggalan sebanyak 1.500 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 6, ibu mendapatkan 1/6 (berarti satu bagian), cucu perempuan 1/2 (berarti 3 bagian), dan sisanya --dua bagian-- menjadi hak kedua saudara perempuan kandung sebagai 'ashabah. Sedangkan ahli waris yang lain ter- mahjub. Inilah tabelnya:


       
    6
    Ibu
    1/6
    1
    Cucu pr. ket. anak laki-laki
    1/2
    3
    Dua saudara kandung pr. ('ashabah)
    2
    Saudara perempuan seayah,
    Dua saudara laki-laki seayah (mahjub)
     
    -
    Masalah Dinariyah ash-Shughra

    Ada dua masalah yang dikenal oleh kalangan ulama faraid, yakni istilah ad-dinariyah ash-shughra dan ad-dinariyah al-kubra. Ad-dinariyah ash-shughra memiliki pengertian seluruh ahli warisnya terdiri atas kaum wanita, dan setiap ahli waris hanya menerima satu dinar.

    Contoh masalahnya, seseorang wafat dan meninggalkan tiga (3) orang istri, dua (2) orang nenek, delapan (8) saudara perempuan seayah, dan empat (4) saudara perempuan seibu. Harta peninggalannya: 17 dinar. Adapun pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 12 kemudian di-'aul-kan menjadi 17. Tiga orang istri mendapatkan 1/4 (berarti 3 bagian), dua orang nenek mendapatkan 1/6 (berarti 2 bagian), kedelapan saudara perempuan seayah mendapatkan 2/3 (berarti 8 bagian), sedangkan keempat saudara perempuan seibu mendapatkan 1/3 (berarti 4 bagian). Jumlah harta peninggalannya ada 17 dinar, jumlah bagian seluruh ahli warisnya pun 17, dengan demikian masing-masing mendapat satu dinar. Maka kasus seperti ini disebut ad-dinariyah ash-shughra. Berikut ini tabelnya:

     
    12
    17
     
    Ke-3 istri
    1/4
    3
    masing-masing 1 bagian = 1 dinar
    Kedua nenek
    1/6
    2
    masing-masing 1 bagian = 1 dinar
    Ke-8 sdr. pr. seayah
    2/3
    8
    masing-masing 1 bagian = 1 dinar
    Ke-4 sdr. pr. seibu
    1/3
    4
    masing-masing 1 bagian = 1 dinar
    Masalah Dinariyah al-Kubra

    Adapun masalah ad-dinariyah al-kubra memiliki pengertian bahwa ahli waris yang ada sebagian terdiri dari ashhabul furudh dan sebagian lagi dari 'ashabah. Masing-masing ahli waris di antara mereka ada yang hanya mendapatkan bagian satu (1) dinar, sebagian ada yang mendapatkan dua (2) dinar, dan sebagian lagi ada yang mendapatkan lebih dari itu. Hal seperti ini di kalangan ulama faraid disebut ad-dinariyah al-kubra.

    Contoh masalah ini sebagai berikut: misalnya, seseorang wafat meninggalkan istri, ibu, dua anak perempuan, dua belas saudara kandung laki-laki, dan seorang saudara kandung perempuan. Sedangkan harta peninggalannya 600 dinar. Maka pembagiannya seperti berikut: pokok masalahnya dari 24 kemudian setelah ditashih menjadi 600. Istri mendapatkan 1/8 (berarti 3 bagian), ibu mendapatkan 1/6 (berarti 4 bagian), kedua anak perempuan memperoleh 2/3 (16 bagian), dan sisanya satu (1) bagian merupakan bagian ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan sebagai 'ashabah.

    Jadi,

    Istri 3 x 600:24 dinar = 75 dinar
    Ibu 4 x 600:24 dinar = 100 dinar
    Kedua anak perempuan 16 x 600:24 dinar = 400 dinar
    Total = 575 dinar

    Sedangkan ke-12 saudara kandung laki-laki dan seorang saudara kandung perempuan mendapat sisanya, yakni 25 dinar sebagai 'ashabah, dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua kali lipat bagian perempuan. Dengan demikian, yang 24 dinar dibagikan kepada ke-12 saudara kandung laki-laki dan masing-masing mendapat dua (2) dinar, dan yang satu (1) dinar bagian saudara kandung perempuan. Berikut ini tabelnya:


       
    25
     
       
    24
    600
    Istri
    1/8
    3
    75
    Ibu
    1/6
    4
    100
    Kedua anak perempuan
    2/3
    16
    100
    12 saudara kandung laki-laki
    1 saudara kandung perempuan ('ashabah)
    1
     
    24
    1
    Masalah ad-dinariyah al-kubra ini pernah terjadi pada zaman al-Qadhi Syuraih (seseorang mengajukan masalah kepadanya). Akhirnya Syuraih memvonis dengan memberikan hak saudara kandung perempuan pewaris hanya satu (1) dinar. Tetapi, wanita tersebut kemudian mengadukan hal itu kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a. yang menyebutkan bahwa Syuraih telah menzhaliminya, mengurangi hak warisnya hingga memberinya satu dinar dari peninggalan saudaranya yang 600 dinar itu.

    Kendatipun wanita tersebut tidak menyebutkan seluruh ahli waris yang berhak menerima warisan, namun dengan ketajaman dan keluasan ilmunya, Ali bin Abi Thalib bertanya, "Barangkali saudaramu yang wafat itu meninggalkan istri, dua anak perempuan, ibu, 12 saudara kandung laki-laki, dan kemudian engkau?" Wanita tersebut menjawab, "Ya, benar." Ali berkata, "Itulah hakmu tidak lebih dan tidak kurang."

    Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a. memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa hakim Syuraih telah berlaku adil dan benar dalam memvonis perkara yang diajukannya. Wallahu a'lam bish shawab. 
    Comments
    0 Comments

    0 Responses to “Pembagian Harta Peninggalan”

    Post a Comment

    Terima Kasih Bersedia membaca dan berkomentar; Dimohon berkomentar dengan sopan, dan penuh senyum.. Salam Blogger

    Artikel Terbaru


    Google+ Followers

    Subscribe